TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1448 H SEBAGAI HARI LIBUR NASIONAL, TRADISI DAN SEJARAH

TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1448 H SEBAGAI HARI LIBUR NASIONAL,  TRADISI DAN SEJARAH

KARANGDOWO KLATENSelasa 16 Juni 2026 bertepatan tanggal 1 Muharram 1448 H / 1 syuro ditetapKan sebagai hari libur nasional. Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Muharram sebagai hari libur nasional untuk menghormati pentingnya peristiwa hijrah dalam sejarah Islam. Penetapan tersebut dimulai ketika Gubernur Abu Musa Al-Asyari mengirimkan surat kepada Khalifah Umar Bin Khatab pada tahun 17 Hijriah.  Dalam tradisi umat Islam 1 Muharram memiliki makna istimewa. Tanggal ini bukan sekadar awal bulan dalam kalender Hijriyah, tetapi juga menjadi penanda Tahun Baru Islam.

Sejarah Munculnya Kalender Hijriyah

Hal ini terjadi sekitar 6 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Salah satu gubernur, Abu Musa al-Asy'ari, mengirimkan surat kepada Khalifah Umar dan meminta agar dibuat sistem kalender resmi agar urusan administrasi menjadi lebih tertib dan teratur.

Khalifah Umar bin Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah Nabi SAW adalah tahun satu, dan sejak saat itu kalender umat Islam disebut 'Tarikh Hijriyah.' Tanggal 1 Muharram pada tahun 1 Hijriah bertepatan dengan 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya keputusan Khalifah itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai 17 Hijriyah. Kalender Islam dikenal dengan nama hijriyah, kata ini berasal dari bahasa Arab 'Hijriyah' yang berarti berpindah. Kata ini diambil dari awal mula penanggalan ini yaitu hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram dalam Islam, yang sejak zaman jahiliyah telah dimuliakan dan dihormati. Muharram juga berdekatan dengan bulan Dzulhijjah, saat umat Islam menunaikan ibadah haji.  1 Muharram memiliki makna mendalam bagi umat Islam. Ini bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan simbol hijrah, berpindah dari kegelapan menuju cahaya, dari lalai menuju kesadaran, dari dosa menuju taubat.

1 Muharram Menurut Adat Jawa (1 Suro)

Malam 1 Suro merupakan salah satu momen sakral yang memiliki makna mendalam dalam tradisi dan budaya masyarakat Jawa, bertepatan dengan malam 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Di beberapa daerah, malam 1 Suro disambut dengan suasana hening, penuh kehati-hatian, dan kesadaran spiritual yang tinggi. Masyarakat memilih untuk tidak mengadakan pesta atau keramaian, melainkan menjalani ritual seperti tirakat, meditasi, mandi kembang, hingga ziarah ke makam leluhur sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keselamatan.  Malam 1 Suro pada tahun ini bertepatan dengan Selasa wage, 16 Juni 2026. Tanggal tersebut juga telah ditetapkan sebagai libur nasional berdasarkan SKB Tiga Menteri karena berbarengan dengan momen 1 Muharram 1447 Hijriah.

Makna Malam 1 Suro

Kata ‘suro’ berasal dari kata ‘Asyura’ dalam bahasa Arab yang artinya adalah sepuluh. Dalam lidah masyarakat Jawa, kata Asyura ini kemudian dilafalkan menjadi ‘suro’ yang dikenal sebagai malam sakral hingga saat ini.  Diketahui, tradisi Suro sudah dilakukan sejak dinasti Sultan Agung, tepatnya pada Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi. Saat itu, masyarakat Jawa mengadopsi kalender Islam untuk menyatukan nilai-nilai Islam dan kejawen. 

Malam 1 Suro dianggap sebagai waktu yang sangat sakral. Masyarakat Jawa meyakini bahwa malam ini adalah waktu terbaik untuk menyepi, bertafakur, dan menjalani tirakat (laku spiritual) demi membersihkan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.  Suro juga diyakini sebagai bulan yang penuh energi mistis. Oleh karena itu, banyak orang menghindari kegiatan besar seperti pernikahan atau hajatan selama bulan ini. Sebaliknya, kegiatan yang bersifat spiritual seperti ritual tolak bala, ziarah kubur, atau pertapaan lebih dianjurkan

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0